BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
MASALAH
Berkat
perkembangan teknologi, kita mengalami perubahan di dalam cara belajar
(mendapatkan informasi, pengetahuan, dan ketrampilan baru). Ada mesin pencari (search
engine) yang membuat kita bisa mencari dan mempelajari apapun yang kita
butuhkan/inginkan. Anak-anak yang tumbuh sekarang adalah anak-anak digital.
Mereka lahir dan tumbuh dengan barang digital dan multimedia yang ada di
sekitar mereka, TV, VCD/DVD, Internet, gadget, yang membuat mereka
sangat terekspos dengan multi-stimulan (otak, mata, telinga, animasi, fisik).
Hal
ini seringkali membuat mereka sulit fokus dengan model pendidikan yang
dijalankan dengan sistem tradisional di kelas yang cenderung membosankan bagi
mereka. Jadi, sangat dimungkinkan karena mereka sulit untuk memfokuskan diri
pada model pengajaran yang membosankan di kelas. Banyak mahasiswa sering dicap
urakan atau terlalu „berandalan‟ dan tidak bisa mengikuti aturan atau tata
tertib kampus.
Hal
lain yang terjadi saat ini, banyak mahasiswa mengeluh stres dan depresi,
mengalami psikosomatis, tidak mampu berprestasi, terlalu diatur dan tidak
dipercaya atau orang tua berkeluh-kesah tentang kecurangan seperti tidak dapat
mengambil keputusan dikampus. Dosen, kampus dan pemerintah punya kontribusi
yang cukup besar dalam persoalan ini. Para dosen yang masih memiliki hati
nurani mungkin sebenarnya juga mengalami stres, lalu mereka melakukan mark-up
nilai.
Ketika
realitas negeri kita begitu buruk dengan kebobrokan moral di hampir semua lini,
salah satu harapan kita adalah institusi pendidikan yang akan menjadi bagian
solusi untuk negeri kita. Institusi pendidikan diharapkan dapat menyiapkan SDM
untuk masa depan, kita berharap banyak kepada para dosen dan pihak kampus untuk
menyiapkan mahasiswa, yang bukan hanya cerdas, tetapi jauh lebih penting:
memiliki integritas pribadi dan bermoral kuat.
Persoalan
yang muncul bagaimana merancang metode dan pendekatan yang tepat? Apakah sistem
pendidikan sudah efektif dalam mengembangkan mahasiswa?
Tidak
hanya persoalan akademis tetapi juga pengembangan karakter mahasiswa menjadi Sumber Daya
Manusia (SDM) yang unggul? Apakah yang dilakukan selama ini oleh pemerintah,
institusi pendidikan bahkan pola asuh dan pendidikan orang tua sudah mendukung
untuk perkembangan kepribadian mahasiswa?
B.
RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang masalah yang
diuraikan dapat dirumuskan masalah utama dalam penelitian ini adalah:
1.
Apakah ada pengaruh senam kecerdasan
terhadap leadership mahasiswa?
2.
Bagaimana senam kecerdasan dapat
mempengaruhi mahasiswa dalam mengambil keputusan?
C.
TUJUAN
PENELITIAN
1.
Tujuan Umum
Untuk mengetahui efektivitas senam
kecerdasan (SK) terhadap mahasiswa dalam mengambil tindakan kepemimpinan (leadership).
2.
Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui metode senam kecerdasan di
Lembaga Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia RTD (LP2SDM RTD).
b. Untuk mengetahui pengaruh senam kecerdasan
terhadap leadership mahasiswa di
Lembaga Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia RTD (LP2SDM RTD).
D.
MANFAAT
PENELITIAN
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak,
khususnya bagi peneliti dan khalayak intelektual. Disamping itu, penelitian ini
dimaksudkan dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Secara Teoritik
Manfaat yang
ingin dicapai secara teoritis adalah dapat memberikan gambaran atau bahkan
sebuah teori baru mengenai senam kecerdasan, metode pengoptimalan senam
kecerdasan yang dapat membaca fenomena lingkungan dari setiap interaksi
kesadaran yang terjadi tidak berkaitan dari pengalaman pengambilan keputusan
kepemimpinan yaitu leadership.
Jadi, hasil dari penelitian
ini nantinya diharapkan dapat digunakan sebagai peneliti-peneliti lain yang
ingin meneliti hal serupa.
2. Secara Praktis
a. Bagi Masyarakat
Manfaat yang
ingin dicapai secara praktis bagi masyarakat adalah untuk memberi gambaran
individu yang mengetahui senam kecerdasan secara umum dan semuanya adalah
proses pengembangan diri sendiri ketika manusia lahir keadaanya sangat lemah karena
banyak kemampuannya masih tersimpan dalam bentuk potensi yang memerlukan
pengembangan untuk menjadi aktual.
b. Bagi Individu
Manfaat yang
ingin dicapai secara praktis bagi individu adalah untuk memberikan gambaran
bahwa setiap individu dapat merasakan efektivitas senam kecerdasan dengan
metode-metode tertentu karena manusia adalah makhluk sempurna ciptaan Allah
SWT. Yang memiliki potensi yang sangat luar biasa.
c. Bagi Peneliti
Manfaat yang
ingin dicapai secara praktis bagi peneliti adalah dapat memberikan pengalaman
meneliti. Hasil penelitian pun dapat memberikan kepuasan secara batin karena
dapat memberikan manfaat kepada orang lain, terutama manfaat bagi keilmuan
Tasawuf dan Psikoterapi khususnya.
Manfaat lain yang juga ingin
dirasakan peneliti adalah dapat mengikuti proses latihan yang dapat
mengefektivitaskan senam kecerdasan terhadap leadership peneliti sendiri.
E.
TINJAUAN
PUSTAKA
Untuk menyatakan keaslian penelitian ini, maka perlu adanya tinjauan
pustaka dari penelitian yang terdahulu yang relevan dengan penelitian yang
peneliti kaji. Adapun penelitian tersebut diantaranya:
Pertama, penelitian yang
dilakukan Shonnief Hidayat (2013) yang berjudul “Materialisasi Aura Dalam Afirmasi Daya Tarik Cinta (Studi kasus di
Lembaga Seni Pernapasan Radiasi Tenaga Dalam Unit Psikosufistik Walisongo
Semarang)”. Dalam penelitian yang dihasilkan terdapat aura yang berdiri
sebagai potensi daya batin seseorang, pada hakikatnya memancarkan sinar atau
cahaya yang menyelubungi tubuh. Dan pembangkit auta disini adalah cakra dalam
pengertian spiritual adalah tempat atau jalur keluar masuknya energi prana.[1]
Kedua, penelitian yang
dilakukan oleh Hilmar Riyanto (2015) yang berjudul “Transformasi Identitas Diri Pada Individu Dengan Kemampuan Ekstra
Sensory Perception Di Jakarta”. Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan, maka diperoleh bahwa transformasi identitas diri pada individu yang
mengalami kebangkitan Ekstra Sensory
Perception (ESP) mengalami perubahan pada komponen konsep diri dan terdapat
3 peran komunikasi didalamnya (intrapersonal,
interpersonal, transcendental).[2]
Ketiga, penelitian yang
dilakukan oleh Nisyfa Aditya Rahma (2012) yang berjudul “Kesejahteraan Psikologis (Psychological Wel-Being) Pada Individu Dewasa
Awal Yang Memiliki Ekstra Sensory Perception (ESP).” berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh individu
yang memiliki Ekstra Sensory Perception (ESP)
dapat memenuhi 6 konsep psikologis, yaitu dimensi penerimaan diri, hubungan
positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan
pengembangan pribadi.[3]
Keempat, penelitian yang
dilakukan oleh Roinal Rois Al Kalim (2016) yang berjudul “Optimalisasi Energi Prana Dalam Meningkatkan Ekstra Sensory
Perception.”berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka diperoleh
pengoptimalan energy prana Ekstra Sensory
Perception (ESP) dengan melatih kepekaan sebagai pemula melatih kepekaan
tangan dan kepekaan badan. Kepekaan tangan memiliki psikolobus minor yang
berguna untuk mengalirkan energi dari tubuh pada suatu objek secara intensif
lebih dari itu psikolobus minor tangan memliki kepekaan yang tinggi dapat
dipergunakan untuk “meraba” prana. Kemudian kepekaan badan dengan mengakses
psikolobus solar plexus. Psikolobus solar plexus ini secara fungsi psikologis
merupakan memori, begitu pula secara mekanisnya. Kepekaan bioenergi menunjukan
tingkat respon spontan dari kerja pikiran terhadap sesuatu. Konsep optimalisasi
energi adalah mengolah pernapasan perut, pemusatan pikiran, konsentrasi
melatih, serta penghayatan. Dengan proses penghayatan bisa saja seseorang mengalami
suatu proses meditasi tanpa mengetahui apa sebetulnya terjadi.[4]
Kelima, penelitian yang
dilakukan oleh Wahyu Rishandi (2014) yang
berjudul “Pengaruh
Kepemimpinan Terhadap Disiplin Kerja Karyawan Di PT. SAC Nusantara Medan.” Berdasarkan hasil
penelitian ini maka diperoleh dari hasil penelitian penulis di PT. SAC Nusantara Medan dapat
ditarik kesimpulan bahwa Karyawan di PT. SAC Nusantara Medan dalam
meningkatkan disiplin kerja pegawai dipengaruhi penerapan kepemimpinan yang
sesuai dan yang diinginkan pegawai.[5]
Keenam, berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Dwi Wahyu Wijayanti (2014) yang berjudul. ”Pengaruh kepemimpinan dan
Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Daya Anugerah Semesta
Semarang.” Berdasarkan hasil penelitian ini maka diperoleh Kepemimpinan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja
karyawan PT. Daya Anugerah Semesta Semarang. Sehingga disimpulkan bahwa semakin
baik kepemimpinan yang tercipta semakin meningkat pula kinerja karyawan, dan
demikian pula sebaliknya semakin buruk kepemimpinan maka kinerja karyawan juga
semakin buruk. Motivasi berpengaruh positif tidak signifikan terhadap kinerja
karyawan PT. Daya Anugerah Semesta Semarang. Sehingga disimpulkan bahwa semakin
baik motivasi yang tercipta semakin meningkat pula kinerja karyawan, dan
demikian pula sebaliknya semakin buruk motivasi maka kinerja karyawan juga
semakin buruk.[6]
Ketujuh, berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Hendriawan (2011) yang berjudul.
“Pengaruh Gaya Kepemimpinan Dan Budaya
Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Dwimitra Multiguna Sejahtera Di
Kabupaten Konawe Utara Provinsi Sulawesi Tenggara.”
Berdasarkan hasil penelitian ini maka diperoleh Berdasarkan
hasil perhitungan analisis regresi linear berganda dengan pengujian secara
simultan diketahui bahwa variabel gaya kepemimpinan (X1) dan budaya organisasi
(X2) diperoleh nilai F-hitung 64,967 dan nilai signifikansi 0,000 yang berarti
variabel gaya kepemimpinan dan budaya organisasi berpengaruh secara simultan
terhadap kinerja karyawan pada PT. Dwimitra Multiguna Sejahtera di Kabupaten
Konawe Utara Provinsi Sulawesi Tenggara. Hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Suharyanto (2011) di Universitas PGRI
Adi Buana Surabaya, Teguh Rhiman Handoko (2012) di Pondok Serrata, Maulvinizar
(2011) pada PT. Pos Indonesia (persero) cabang Kudus dan Rusdan Arif (2010)
pada PT. Bank mega cabang Semarang dimana kepemimpinan dan budaya organisasi
berpengaruh secara simultan terhadap kinerja karyawan.[7]
Kedelapan, berdasarkan
penelitian yang dilakukan Marwan Petra
Surbakti (2011) yang
berjudul “Analisi Pengaruh Kepemimpinan Transformasional & Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan (Studi pada PT. Kereta api Indonesia Daop IV Semarang).” Karyawan sangat membutuhkan motivasi dari pimpinan unuk mewujudkan
cita-cita di masa mendatang baik melalui pelatihan, pada saat bekerja, sehingga
terbentuk suatu sinergi yang dapat meningkatkan produktivitas. Beberapa
peneliti telah menguji hubungan antara motivasi dengan kinerja pegawai, antara
lain Cahyono dan Suharto (2005); Rachmawati, Warella, dan Hidayat (2006);
Masrukhin dan Waridin (2006); Analisa (2011), bahwa motivasi kerja berpengaruh
positif terhadap kinerja pegawai.[8]
Kesembilan, berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Randi Putra (2015)
yang berjudul “Hubungan Antara Gaya
Kepemimpinn dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Lembaga Pengkajian
Teknologi dan Informasi Pelataran Mataram Yogyakarta”. Berdasarkan hasil
penelitian ini maka dapat diperoleh hubungan positif dan signifikan antara gaya
kepemimpinan dengan kinerja LPTI Pelataran Yogyakarta, yang ditunjukan dengan
nilai r hitung lebih besar dari r tabel (0, 0,545>0,279) dan nilai
signifikansi kurang dari 0,05 (0,000<0,05), 2) terdapat hubungan positif dan
signifikan antara motivasi kerja dengan kinerja pegawai LPTI Pelataran Mataram
Yogyakarta, yang ditunjukkan dengan nilai r hitung lebih besar dari r tabel
(0,640 >0,279) dan nilai signifikansi kurang dari 0,05 (0,000<0,05). 3)
terdapat hubungan positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan dan motivasi
kerja dengan kinerja pegawai LPTI Pelataran Mataram Yogyakarta, yang
ditunjukkan dengan nilai R hitung sebesar 0,730 lebih besar dari R tabel (0,730
>0,279) dan nilai signifikansi kurang dari 0,050 (0,000<0,05).[9]
Kesepuluh, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
Adman (2001) yang berjudul “Kepemimpinan
dan Produktivitas Kerja”. Berdasarkan hasil penelitian ini maka diperoleh
hasil penelitian menunjukkan angka hubungan sebesar 0,80, artinya terdapat
derajat keeratan hubungan yang positif antara perilaku kepemimpinan dengan
produktivitas kerja karyawan. Hal ini menunjukan bahwa perilaku kepemimpinan
mempunyai pengaruh yang positif terhadap peningkatan produktivitas kerja
karyawan di pondok pesantren Daarut Tauhiid Bandung. Hal itu ditunjukkan dengan
adanya; Pertama, beberapa indikator perilaku kepemimpinan yang terbentuk
seperti keteladanan, kemampuan memotivasi, kemampuan dalam pengambilan
keputusan, disiplin. merupakan bagian
terpenting dalam menunjang produktivitas kerja karyawan. Dan hal tersebut merupakan kunci utama yang
menjadi landasan dalam membentuk dan membangun Sumber Daya Manusia yang
berkualitas. Kedua, Perilaku, sifat dan gaya Kepemimpinan tersebut menunjukan
peran yang penting dalam membentuk kepribadian dan kesadaran bagi karyawan di
Pondok Pesantren DT tersebut. Ketiga, Nilai luhur yang menjadi acuan para karyawan dan santri di Pondok Pesantren
DT diyakini dan melekat pada setiap individu karyawan.[10]
BAB II
LANDASAN TEORI
A.
KAJIAN TEORI
1. Senam Kecerdasan
Persoalan penting saat ini dalam dunia pendidikan
adalah krisis SDM. Krisis SDM tersebut berkaitan dengan ketidakmampuan kita
menggunakan bakat dan talenta sebagai manusia. Oleh karena itu, yang dibutuhkan
bukan evolusi, tetapi revolusi dalam bidang pendidikan. Sistem pendidikan yang
ada sekarang harus ditransformasikan menjadi sesuatu yang berbeda.
Menurut Ken Robinson, masalah terbesar dari reformasi
atau transformasi pendidikan adalah tirani dari penalaran umum, sebuah nilai
dan praktek yang sudah diterima apa adanya sebagai kebenaran dan orang
menganggap tidak mungkin dilakukan dengan cara lain karena biasanya memang
begitu. Dogma-dogma (pendidikan) pada dasarnya adalah buah pemikiran sebagai
respon masalah pada sebuah zaman.
“Banyak dari
ide-ide kita telah dibentuk, bukan untuk memenuhi keadaan abad ini, tapi untuk
mengatasi keadaan abad sebelumnya”. kita harus memerdekakan diri kita dari
beberapa ide-ide tersebut”.
Salah satu dogma tentang pendidikan
yang sudah tidak tepat zaman adalah ide mengenai linearitas. Jika kita mulai
dari sebuah titik dan kita melakukan semuanya dengan benar, maka kita pasti
akan sampai di tujuan dan selamat seumur hidup kita. Padahal, kenyataannya
hidup tidaklah linear. Kehidupan itu layaknya organik.
”Kita menciptakan hidup kita secara
simbiotik seiring dengan eksplorasi bakat-bakat kita dalam kaitannya dengan
situasi yang tercipta untuk kita. Model yang menarik untuk menjelaskkan hal-hal tersebut
di atas, ada temuan yang sangat menarik dalam seni pernafasan dan olah gerak
tubuh, salah satunya disebut dengan “Senam
Kecerdasan” yang melalui gerakan-gerakan tubuh tertentu dan
pengolahan pernapasan yang tepat dapat mengolah semua sumber energi dalam tubuh
dan luar tubuh secara simultan. Sistem yang terintegerasi dan energi yang lebih
berkualitas dapat diolah melalui sebuah proses dekonstruksi dan rekonstruksi
sumber daya energi dan aliran energi sedemikian logis, sistimatis dan
konsisten.
Dalam rancang bangun manajemen kualitas energi yang
kokoh, tidak hanya membangun fisik luar dan dalam yang sehat, juga membangun
kepribadian yang matang (mature personality) dengan tetap memperhatikan
tuntutan dan situasi sehingga tetap mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan
yang berbeda-beda dan baru (well adjusted) dan semakin mengembangkan
kesadaran spiritual terhadap pencipta (Allah SWT) dan semua ciptaannya.
Dalam senam kecerdasan terkuak bagaimana semua fungsi
tubuh biologis, kimiawi tubuh dan fisika tubuh yang dapat mengoptimalkan fungsi
psikologis yaitu kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional, dan yang
terpenting kesadaran spiritual. Medan energi yang disebut dengan ”Psikolobus‟ merupakan
titik-titik medan energi (biofield) dalam tubuh fisik yang dapat
menstimulasi semua bagian dalam dan luar tubuh untuk mengembangkan potensi dan
kompetensi seseorang tidak secara linear, tetapi sangat dinamis dan singular.
Sebuah kesadaran baru menjadi aktif ketika kesadaran menyatakan masih ada suatu
nalar yang bisa dijelajahi, suatu realita baru yang lebih holistik dan
membentang.
Cara Kerja Senam Kecerdasan:
Mekanisme dan fungsi
psikolobus yang ajeg dan konsisten dengan fungsi dan peran kelenjar tubuh yang
bekerja secara sistematis, proses kimiawi tubuh dan polarisasi energi dalam
tubuh membuat dinamika psikis menjadi terjelaskan secara logis dan empirikal.
Cara kerja dan dinamika intrapsikis seperti kognitif, emosi dan afeksi serta
konasi menjadi lebih mudah dijelaskan dan mudah dipahami.[11]
2.
Perilaku
Kepemimpinan
Teori yang menggunakan perilaku memandang
bahwa kepemimpinan dapat dipelajari dari pola tingkah laku, dan bukan dari
sifat-sifat (traits) pemimpin. Alasanya sifat-sifat seorang relatif sulit untuk
diidentifikasikan. Halphin (1959) menyatakan tentang keharusan dibedakannya
antara kepemimpinan dengan tingkah laku pemimpin. Dalam pengertian yang
dipertentangkan antara kepemimpinan dan tingkah laku pemimpin (leadership dan leader behavior), ialah
bahwa tingkah laku pemimpin lebih ditekankan pada tingkah laku yang dapat
diobservasi (observed behavior) daripada kapasitas nyata yang dapat diangkat
dari tingkah laku tersebut. Dalam hal ini para pendukung teori perilaku
mengungkapkan bahwa cara seseorang bertindak akan menentukan keefektifan
kepemimpinan orang bersangkutan.
Fidler (1973) secara jelas membedakan
antara perilaku kepemimpinan dengan gaya kepemimpinan. Dikemukakan bahwa
perilaku kepemimpinan merupakan tindakan-tindakan spesifik seorang pemimpin
dalam mengarahkan dan mengkoordinasikan kerja anggota kelompok. Sebagai contoh, pemimpin membimbing atau
memberikan saran-saran kepada yang dipimpinnya, Sedangkan gaya kepemimpinan
adalah hal-hal yang mendasari tindakan pemimpin (need structure) yang mendorong
perilakunya dalam berbagai situasi kepemimpinan. Perilaku kepemimpinan, gaya
kepemimpinan, dan sifat kepemimpinan dari masing-masing pemimpin memiliki ciri
khas. Perilaku kepemimpinan yang cocok
dalam satu situasi belum tentu sesuai dengan situasi yang lain, akan tetapi,
perilaku kepemimpinan keefektifannya tergantung pada banyaknya faktof.
Nanang Fatah, (1996), mengemukakan bahwa
perilaku pemimpin dipengaruhi oleh empat faktor-faktor. Pertama; faktor
keluarga yang langsung maupun tidak langsung telah melekat pada dirinya. Kedua:
latar belakang pendidikannya yang berpengaruh dalam pola pikir, pola sikap tingkah lakunya. Ketiga: pengalaman
yang mempengaruhi kebijaksanaan dan tindakanya. Keempat: lingkungan masyarakat
sekitar akan menentukan arah yang harus
diperankannya. Bagaimana pemimpin berperilaku dipengaruhi oleh latar belakang
pengetahuan, nilai-nilai dan pengalaman mereka. Disamping itu pemimpin harus
mempertimbangkan kekuatan situasi seperti iklim organisai, sifat tugas, tekanan
waktu, sikap anggota, faktor lingkungan organisasi. Salah satu wujud dari
perilaku kepemimpinan adalah sifat keteladanan. Keteladanan adalah sifat yang
harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Apabila seorang pemimpin sudah mampu
menunjukan keteladananya maka siapapun yang menjadi pengikutnya akan patuh dan
tidak ada keraguan lagi untuk selalu mentaatinya. Adapun wujud dari sifat
keteladanan ini antara lain ditunjukan dengan akhlak yang baik. Akhlak yang
baik dari seorang pemimpin seperti kita ketahui yang ditunjukkan oleh baginda
Rasulullah Muhammad SAW, seperti tertera dalam Al Qur’an (yang diterjemahkan):
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik
bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
Kiamat dan dia banyak berdzikir menyebut (asma) Allah.” (Al Ahzab, 21) Selanjutnya adalah sifat disiplin. Disiplin
yang sudah teruji tidak hanya sekedar menjadi sifat saja akan tetapi sudah
merupakan perilaku disiplin dan hal ini ditunjukan langsung oleh pemimpin.
Selain itu, indikator lain dari keteladanan seorang pemimpin antara lain, rasa
tanggung jawab, prestasi kerja yang dimiliki oleh seorang pemimpin, adanya
tauladan atau contoh langsung yang ditunjukan oleh diri pemimpin. Wujud
selanjutnya dari perilaku kepemimpinan adalah kemampuan untuk memotivasi
seseorang. Memeotivasi seseorang secara langsung atau tidak langsung,
membangkitkan potensi yang dimiliki orang tersebut, sehingga ia berusaha
mencapai tujuan pribadi dan organisasi secara efektif dan efisien. Kemampuan
untuk mengambil keputusan yang berkualitas juga merupakan wujud dari perilaku
kepmimpinan.
Helga Drumond (1995) menyatakan
pengambilan keputusan adalah segala hal mengenai penciptaan kejadian-kejadian
dan pembentukan masa depan. Sementara proses pengambilan keputusan adalah
menyangkut peristiwa-peristiwa yang menjurus pada saat pemilihan dan
sesudahnya, sementara sebuah keputusan berarti memutus, yaitu menentukan sebuah
pilihan atau arah tindakan tertentu. Kemampuan berkomunikasi merupakan wujud
berikutnya dari perilaku kepemimpinan. Kemampuan ini akan terlihat pada indikator-indikator
sebagai berikut: kemampuan retorika, hal ini merupakan kemampuan yang melekat
pada diri seorang pemimpin. Pada hakekatnya pemimpin sesuai dengan perannya dia
akan menyampaikan ide-idenya kepada para bawahanya, untuk menyampaikan hal
tersebut harus didukung oleh kemampuan untuk menyampaikan secara efektif,
menyangkut kemampuan menyampaikan secara efektif inilah yang kita kenal dengan
retorika. Selanjutnya ialah seorang pemimpin dalam menyampaikan setiap
ide-idenya harus mudah dipahami oleh bawahannya, kemampuan ini harus dimiliki
oleh seorang pemimpin dalam rangka menunjang efektivitas kepemimpinan pula.
Tekait dengan kemampuan berkomunikasi ini, pemimpin juga harus memahami obyek
dalam menjalankan tugas kepemimpinanya. Yang dimaksud adalah seorang pemimpin
harus memahami betul setiap tindakan yang dilakukannya, baik yang menyangkut
dengan dirinya juga dengan orang lain atau para bawahanya. Dalam hubungannya
dengan perilaku kepemimpinan, visi dan misi organisasi dipandang sebagai
inovasi dalam proses menjalankan tugas kepemimpinan. Visi dan misi ini dominan
sekali peranannya dalam proses pengambilan keputusan bagi pemimpin, termasuk
juga dalam menentukan kebijakan dan penentuan strategi organisasi. Visi
merupakan salah satu atribut kunci kepemimpinan, yang sekaligus menjadi “sole
guideline” bagi setiap anggota organisasi dalam beraktivitas.[12]
B.
METODOLOGI
RISET
1. Jenis Dan Pendekatan Penelitian
a. Jenis penelitian
penelitian ini
termasuk jenis penelitian lapangan (field
research), objek penelitiannya adalah berupa objek dilapangan yang
sekiranya dapat memberikan informasi tentang kajian penelitian. Jenis
penelitian ini adalah penelitian kualitatif yaitu penelitian yang bersifat dan
memiliki karakteristik alami (natural
setting) sebagai sumber data langsung, deskriptif, proses lebih
dipentingkan daripada hasil.[13]
b. Pendekatan
Dalam penelitian
ini menggunakan pendekatan studi kasus. Dengan ini peneliti mempelajari dan
menggambarkan aktifitas, kejadian ataupun individu, berdasarkan pengumpulan
data yang intensif.[14]
Kasus yang dipelajari atau diteliti adalah aktifitas atau kegiatan latihan yang
ada di Lembaga Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia RTD (LP2SDM RTD).
2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini
dilaksanakan di Lembaga Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia RTD
(LP2SDM RTD) Unit Psikosufistik Walisongo Semarang, tepatnya adalah sebuah
lembaga olahraga, olah rasa serta olah jiwa yang berada dilingkungan Himpunan
Mahasiswa Jurusan Tasawuf Psikoterapi (TP), kampus 2 Fakultas Ushuluddin dan
Humaniora UIN Walisongo Semarang Jalan Prof. DR. Hamka Ngaliyan km.2 Semarang
50181 Jawa Tengah.
3. Sumber Data
Adapun sebagai
sumber data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Sumber Data Primer
Dalam penelitian
ini, sumber data adalah aktifitas atau kegiatan beserta modul pelatihan di
Lembaga Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia RTD (LP2SDM RTD) Unit
Psikosufistik Walisongo Semarang.
b. Sumber Data Sekunder
Adapun sebagai
data sekunder peneliti mengambil dari buku-buku yang ada relevansinya dengan
penelitian ini.[15] Serta
mengumpulkan dokumentasi yang terkait dengan penelitian ini. Seperti hasil observasi
dan wawancara peneliti, dokumentasi.
4. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data
dalam penelitian ini dilakukan dengan observasi partisipan, wawancara,
dokumrntasi.
a. Observasi Partisipan
Obversavi
partisipan ini, peneliti ini hadir secara fisik dan memonitor secara persoalan
yang terjadi. Dalam observasi penelitian ikut terlibat langsung dalam
penelitian yang diamati, sambal mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya secara
fisik dan memonitor secara persoalan yang terjadi. Dalam observasi penelitian
ikut terlibat langsung dalam penelitian yang diamati, sambal mengumpulkan
informasi sebanyak-banyaknya yang dibutuhkan.[16]
Dalam penelitian
kualitatif dikenal adanya tiga tahap observasi yaitu: observasi deskriptif,
observasi terfokus, observasi terseleksi, untuk keterangannya sebagai berikut:[17]
1.
Observasi deskriptiv, observasi ini biasanya
dilakukan pada tahap eksplorasi umum. Dalam observasi deskriptif ini, peneliti
melakukan pra-riset atau beradaptasi dalam kegiatan Lembaga Pelatihan dan
Pengembangan Sumber Daya Manusia RTD (LP2SDM RTD) sejak tahun 2013 sampai
sekarang.
2.
Observasi terfokus, observasi jenis ini
biasanya dilakukan sebagai kelanjutan observasi deskriptif. Pada tahap ini
observasi sudah lebih terfokus terhadap efektifitas senam kecerdasan.
3.
Observasi terseleksi, observasi ini peneliti
mengeksplorasi data tentang efektifitas senam kecerdasan oleh peserta latihan
di Lembaga Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia RTD (LP2SDM RTD).
b. Wawancara
Wawancara dalam
pendekatan kualitatif bersifat mendalam. Wawancara mendalam adalah suatu
kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan informasi secara mendalam dari hasil
latihan senam kecerdasan kepada peserta.[18]
c. Studi Dokumentasi
Studi dokumentasi
ini, peneliti mengumpulkan dokumen maupun foto yang ada di Lembaga Pelatihan
dan Pengembangan Sumber Daya Manusia RTD (LP2SDM RTD). Dokumen ini bisa
berbentuk hasil observasi dan wawancara peneliti, gambar atau foto.
5. Teknik Analisis Data
Untuk
menganalisis data yang ada, Peneliti menggunakan analisis deskriptif
kualitatif. Yaitu menganalisa data dengan menggambarkan data apa adanya
kemudian menganalisisnya. Penelitian kualitatif ini digunakan untuk mendapat
data yang mendalam yakni suatu data yang mengandung makna. Makna disini
maksudnya adalah data yang sebenarnya yaitu data yang nampak dalam penelitian.
Sehingga bisa dikatakan bahwa kualitatif tidak menekankan pada generalisasi,
akan tetapi menekankan dari data tersebut.[19]
Proses analisis
ini dimulai dengan menvalidasi data atau memastikan data yang ditemukan serta
interpretasinya telah akurat, mengorganisasi data dan informasi, menyajikan
temuan dengan paparan temuan dalam bentuk kategorisasi dan pengelompokan, dan
selanjutnya peneliti melakukan interpretasi dalam memahami kenyataan yang ada
untuk menarik kesimpulan.
6. Tahap Penelitian
Tahap-tahap
penelitian dalam penelitian ini ada tiga tahapan dan ditambah dengan tahap
terakhir dari penelitian yaitu tahap hasil riset penelitian. Tahap-tahap
penelitian tersebut adalah:
a.
Tahap pra lapangan, yang meliputi: menyusun
rancangan penelitian; memilih lapangan penelitian; mengurus perizinan; melihat
dan menilai keadaan lapangan; memilih dan memanfaatkan informan; menyiapkan
perlengkapan penelitian; dan yang menyangkut persoalan etika penelitian.
b.
Tahap pekerja lapangan, yang meliputi:
memahami latar penelitian dan persiapan diri; memasuki lapangan dan berperan
serta sambal mengumpulkan data
c.
Tahap analisis data, yang meliputi: analisis lama
dan setelah pengumpulan data.
d.
Tahap hasil riset penelitian, pada tahap ini
hasil riset penelitian tidak terlepas dari keseluruhan tahapan kegiata-kegiatan
dan unsur-unsur penelitian.
C.
HASIL RISET
Menurut dari narasumber yang diteliti, maka ditemukan hasil sebagai
berikut:
1. Sejak kapan anda
mengikuti pelatihan di LP2SDM RTD?
Jawab: sejak awal mengenal LP2SDM RTD di bangku perkuliahan.
2. Kenapa anda mengikuti pelatihan di LP2SDM
RTD?
Jawab: karena didalam lembaga ini kajian keilmuannya mencakup jurusan
saya di tasawuf dan psikoterapi.
3.
Siapa yang mengajak anda mengikuti pelatihan
di LP2SDM RTD?
Jawab: sendiri karena saya berminat semenjak mengenal LP2SDM RTD.
4.
Apa saja manfaat yang anda peroleh setelah
mengikuti latihan di LP2SDM RTD?
Jawab: selain kesehatan manfaat yang saya rasakan subtansi yang
menggabungkan metode olah tubuh,olah nafas, dan olah jiwa yang membuat saya
dapat mengambil keputusan atau tindakan yang membuat saya dapat bertanggung
jawab atas kegiatan yang saya lakukan sehari-hari.
5.
Adakah perubahan dalam diri anda setelah
mengikuti pelatihan di LP2SDM RTD? Jelaskan!
Jawab: ada, saya lebih mudah menggontrol diri dalam menghadapi masalah
yang ada di kehidupan saya karena saya merasa lebih tenang menghadaapi
kehidupan sudah dilatih dalam lembaga ini meliputi olah jiwa.
6.
Bagaimana system pelatihan di LP2SDM RTD?
Jawab: lebokno proposal senam kecerdasan goleti dewe wkwkwk
7.
Bagaimana pengaruh mengikuti pelatihan dalam
keseharian anda di LP2SDM RTD?
Jawab: Didalam latihan menggolah polaritas energi sehingga membentuk
lapisan biofiled yang membentuk medan-medan energi yang dapat membantu
keseharian yng mengharmoniskan diri dan lingkungan.
8.
Bagaimana rasanya melakukan latihan senam
kecerdasan?
Jawab: Untuk awal mulanya saya merasa berat karena pola nafas yang belum
terbiasa dalam menahan nafas keika bersamaan melakukan gerakan jadi presisi
gerakan juga harus tepat dan tidak lepas akan berzikir di setiap gerakan, sehingga
membuat saya harus terbiasa akan kesulitan tersebut.
BAB III
KESIMPULAN
A.
KESIMPULAN DAN SARAN
a.
Kesimpulan
Gambaran
efektivitas senam kecerdasan terhadap leadership di Lembaga Pelatihan dan
Pengembangan Sumber Daya Manusia RTD (LP2SDM RTD). Unit Psikosufistik Semarang.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dipaparkan pada laporan
ini. Maka dapat disimpulkan adanya hubungan efektifitas senam kecerdasan dengan leadership dengan rincian sebagai berikut:
1. Manfaat dari senam kecrdasan ini selain
kesehatan manfaat yang saya rasakan subtansi yang menggabungkan metode olah
tubuh,olah nafas, dan olah jiwa yang membuat peserta dapat mengambil keputusan
atau tindakan yang membuat peserta dapat bertanggung jawab atas kegiatan yang peserta
lakukan sehari-hari.
2. Perubahan dalam jiwa dan raga dapat lebih
mudah menggontrol diri dalam menghadapi masalah yang ada di kehidupan saya
karena saya merasa lebih tenang menghadapi kehidupan sudah dilatih dalam
lembaga ini meliputi olah jiwa.
3. Didalam latihan menggolah polaritas
energi sehingga membentuk lapisan biofiled yang membentuk medan-medan energi
yang dapat membantu keseharian yng mengharmoniskan diri dan lingkungan.
b. Saran
Berdasarkan
uraian diatas tentang efektifitas senam kecerdasan terhadap leadership mahasiswa, maka ada, beberapa
saran-saran yang dapat peneliti sarankan, peneliti, peneliti menyarankan
seluruh umat manusia khususnya kepada pembaca skripsi:
1.
Untuk masyarakat umum efektifitas senan
kecerdasan hal yang khusus, semuanya adalah proses pengembangan pada diri
sendiri. Ketika manusia lahir, keadaan sangat lemah, karena banyak kemampuannya
masih tersimpan dalam bentuk potensi yang mememerlukan pengembangan untuk
menjadi actual.
2.
Untuk para praktisi peserta Lembaga Pelatihan
dan Pengembangan Sumber Daya Manusia RTD (LP2SDM RTD) dan juga calon-calon
peserta pelatihan di lembaga ini. Hendaklah mengesampingkan niat yang hanya
memiliki kekuatan atau daya metafisika ssemata, namun landaskan pada tujuan
memahami bentuk diri sendiri, alam sekitar, dan Tuhan Yang Maha Pencipta. Dan
kesungguhan melatih body, mind and soul tanpa
henti secara konsisten. Karena dalam hidup tidak ada tingkat tertinggi, yang
tertinggi hanya Tuhan semata. Kita sebagai manusia hanya berusaha dan terus
berusaha.
DAFTAR PUSTAKA
·
Adman, S.Pdi, Kepemimpinan dan
Produktifitas Kerja, Journal, Bandung: Pondok Darut Tauhid: 2001.
·
Dwi Wahyu Wijayanti, Pengaruh
kepemimpinan dan Motivasi Kerja Terhadap
Kinerja Karyawan Pada PT. Daya Anugerah Semesta Semarang, Skripsi, Semarang:
UNDIP, 2014.
·
Hendriawan, Pengaruh Gaya Kepemimpinan Dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja
Karyawan Pada PT. Dwimitra Multiguna Sejahtera Di Kabupaten Konawe Utara
Provinsi Sulawesi Tenggara, Skripsi, Surabaya: Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, 2011.
·
Hilmar Riyanto, Transformasi Identitas Diri Pada Individu Dengan Kemampuan Ekstra
Sensory Perception Di Jakarta, Skripsi, Jakarta: Fak. Ilmu Komunikasi UMB,
2015.
·
Ir. Raden Aas Rokasa, Senam Kecerdasan Dalam Multidisiplin Ilmu, Proposal,
Bandung: LSP RTD 2015.
·
Lexy Moelong, Metodelogi
Penelitian Kualitatif, Bandung: PT.Remaja Rosda Karya, 2000.
·
Marwan Petra Surbakti, Analisi Pengaruh Kepemimpinan Transformasional & Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan (Studi pada PT. Kereta api Indonesia Daop IV Semarang), Skripsi,
Semarang: UNISULA, 2011.
·
Nisyfa Aditya Rahma, Kesejahteraan Psikologis (Psychological Wel-Being) Pada Individu Dewasa
Awal Yang Memiliki Ekstra Sensory Perception (ESP), Skripsi, Malang: Fak. Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim, 2012.
·
Randi Putra, Hubungan Antara Gaya Kepemimpinn dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja
Pegawai Lembaga Pengkajian Teknologi dan Informasi Pelataran Mataram
Yogyakarta. Skripsi, Yogyakarta: Fak. Ekonomi UNY, 2015.
·
Rianto Adi, Metodologi Penelitian
Social dan Hukum, edisi 1, Jakarta: Granit, 2004.
·
Roinal Rois Al Kalim, Optimalisasi Energi Prana Dalam Meningkatkan Ekstra Sensory Perception,
Skripsi, Semarang: Fak. Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo, 2016.
·
Rully Indrawan dan Poppy Yaniawati, Metode Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif dan campuran untuk menejemen, pembangunan, dan pendidikan, Bandung:
PT Refika Aditama, 2014.
·
Shonnief Hidayat, Materialisasi
Aura Dalam Afirmasi Daya Tarik Cinta (Studi kasus di Lembaga Seni Pernapasan
Radiasi Tenaga Dalam Unit Psikosufistik Walisongo Semarang), Skripsi,
Semarang:Fak. Ushuluddin IAIN Walisongo, 2013.
·
Sanipah Faisal, Penelitian
Kualitatif Dasar-Dasar dan Aplikasi, Malang: Yayasan Asah Asih Asuh Malang,
1990.
·
Sugiono, Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, Bandung: Alfabeta, 2006. hlm. 9.
·
Wahyu Rishandi Pengaruh Kepemimpinan Terhadap Disiplin Kerja Karyawan Di PT. SAC
Nusantara Medan. Skripsi, Medan: Universitas Sumatra Utara, 2014.
Lampiran 1
PEDOMAN WAWANCARA
UNTUK PESERTA LATIHAN DI LP2SDM RTD
Berikut ini
adalah guide interview atau pedoman
wawancara. Pedoman ini masih bisa berkembang menjadi pertanyaan-pertanyaan
terperinci.
1.
Sejak kapan anda mengikuti pelatihan di LP2SDM
RTD?
2.
Kenapa anda mengikuti pelatihan di LP2SDM RTD?
3.
Siapa yang mengajak anda mengikuti pelatihan
di LP2SDM RTD?
4.
Apa saja manfaat yang anda peroleh setelah
mengikuti latihan di LP2SDM RTD?
5.
Adakah perubahan dalam diri anda setelah
mengikuti pelatihan di LP2SDM RTD? Jelaskan!
6.
Bagaimana system pelatihan di LP2SDM RTD?
7.
Bagaimana pengaruh mengikuti pelatihan dalam
keseharian anda di LP2SDM RTD?
8.
Bagaimana rasanya melakukan latihan senam
kecerdasan?
Lampiran 2
PEDOMAN WAWANCARA
UNTUK PELATIH DI LP2SDM RTD
1.
Bagaimana proses pelatihan LP2SDM RTD?
2.
Apa tujuan dan manfaat pelatihan LP2SDM RTD?
3.
Bagaimana perbedaan peserta yang serius dengan
yang tidak?
4.
Apa itu senam kecerdasan?
5.
Apa efek yang diperoleh setelah melakukan
senam kecerdasan?
6.
Apa yang anda ketahui tentang leadership?
7.
Bagaimana hubungan efektifitas senam
kecerdasan dengan leadership?
Lampiran 3
PEDOMAN OBSERVASI
1.
Dimana lokasi penelitian LP2SDM RTD Unit
Psikosufistik?
2.
Bagaimana tahapan latihan di LP2SDM RTD?
3.
Bagaimana aktifitas di LP2SDM RTD?
4.
Bagaimana metode atau cara mengetahui
efektifitas senam kecerdasan?
5.
Bagaimana cara pelatih menyampaikan training?
6.
Bagaimana cara mengefektifitaskan senam
kecerdasan terhadap leadership?
[1]Shonnief
Hidayat, Materialisasi
Aura Dalam Afirmasi Daya Tarik Cinta (Studi kasus di Lembaga Seni Pernapasan
Radiasi Tenaga Dalam Unit Psikosufistik Walisongo Semarang), Skripsi, Semarang:Fak.
Ushuluddin IAIN Walisongo, 2013.
[2]
Hilmar Riyanto, Transformasi Identitas Diri Pada Individu
Dengan Kemampuan Ekstra Sensory Perception Di Jakarta, Skripsi, Jakarta:
Fak. Ilmu Komunikasi UMB, 2015.
[3]
Nisyfa Aditya Rahma, Kesejahteraan Psikologis (Psychological
Wel-Being) Pada Individu Dewasa Awal Yang Memiliki Ekstra Sensory Perception (ESP), Skripsi, Malang: Fak. Psikologi UIN
Maulana Malik Ibrahim, 2012.
[4]
Roinal Rois Al Kalim, Optimalisasi Energi Prana Dalam Meningkatkan
Ekstra Sensory Perception, Skripsi, Semarang: Fak. Ushuluddin dan Humaniora
UIN Walisongo, 2016.
[5] Wahyu Rishandi Pengaruh Kepemimpinan Terhadap Disiplin Kerja Karyawan Di PT.
SAC Nusantara Medan. Skripsi,
Medan: Universitas Sumatra Utara, 2014.
[6]Dwi Wahyu Wijayanti,
Pengaruh kepemimpinan dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Daya
Anugerah Semesta Semarang, Skripsi, Semarang: UNDIP, 2014.
[7] Hendriawan, Pengaruh
Gaya Kepemimpinan Dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT.
Dwimitra Multiguna Sejahtera Di Kabupaten Konawe Utara Provinsi Sulawesi
Tenggara, Skripsi,
Surabaya:
Universitas PGRI Adi
Buana Surabaya, 2011.
[8] Marwan Petra Surbakti,
Analisi
Pengaruh Kepemimpinan Transformasional & Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan (Studi pada PT. Kereta
api Indonesia Daop IV Semarang), Skripsi,
Semarang: UNISULA, 2011.
[9]Randi
Putra, Hubungan Antara Gaya Kepemimpinn
dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Lembaga Pengkajian Teknologi dan
Informasi Pelataran Mataram Yogyakarta. Skripsi, Yogyakarta: Fak. Ekonomi UNY, 2015.
[10] Adman, Kepemimpinan dan
Produktivitas Kerja, Skripsi, Bandung: Fak. Ushuluddin dan Humaniora UIN
Sunan Gunung Djati, 2001.
[11] Ir. Raden Aas
Rokasa, Senam Kecerdasan Dalam Multidisiplin Ilmu, Proposal,
Bandung: LSP RTD 2015.
[12]
Adman, S.Pdi, Kepemimpinan dan
Produktifitas Kerja, Journal, Bandung: Pondok Darut Tauhid: 2001.
[13]
Lexy Moelong, Metodelogi
Penelitian Kualitatif, Bandung: PT.Remaja Rosda Karya, 2000, hlm. 102.
[14]
Rully Indrawan dan Poppy
Yaniawati, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan campuran untuk
menejemen, pembangunan, dan pendidikan, Bandung: PT Refika Aditama, 2014,
hlm.72.
[17] Sanipah
Faisal, Penelitian Kualitatif Dasar-Dasar
dan Aplikasi, Malang: Yayasan Asah Asih Asuh Malang, 1990, hlm. 80.
[19]
Sugiono, Metode Penelitian
Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, Bandung: Alfabeta, 2006. hlm. 9.
No comments:
Post a Comment