Penelitian Kualitatif

Tuesday, 17 October 2017

Contoh Penelitian Kualitatif Tentang Pengaruh Senam Kecerdasan Terhadap Leadership

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Berkat perkembangan teknologi, kita mengalami perubahan di dalam cara belajar (mendapatkan informasi, pengetahuan, dan ketrampilan baru). Ada mesin pencari (search engine) yang membuat kita bisa mencari dan mempelajari apapun yang kita butuhkan/inginkan. Anak-anak yang tumbuh sekarang adalah anak-anak digital. Mereka lahir dan tumbuh dengan barang digital dan multimedia yang ada di sekitar mereka, TV, VCD/DVD, Internet, gadget, yang membuat mereka sangat terekspos dengan multi-stimulan (otak, mata, telinga, animasi, fisik).
Hal ini seringkali membuat mereka sulit fokus dengan model pendidikan yang dijalankan dengan sistem tradisional di kelas yang cenderung membosankan bagi mereka. Jadi, sangat dimungkinkan karena mereka sulit untuk memfokuskan diri pada model pengajaran yang membosankan di kelas. Banyak mahasiswa sering dicap urakan atau terlalu „berandalan‟ dan tidak bisa mengikuti aturan atau tata tertib kampus.
Hal lain yang terjadi saat ini, banyak mahasiswa mengeluh stres dan depresi, mengalami psikosomatis, tidak mampu berprestasi, terlalu diatur dan tidak dipercaya atau orang tua berkeluh-kesah tentang kecurangan seperti tidak dapat mengambil keputusan dikampus. Dosen, kampus dan pemerintah punya kontribusi yang cukup besar dalam persoalan ini. Para dosen yang masih memiliki hati nurani mungkin sebenarnya juga mengalami stres, lalu mereka melakukan mark-up nilai.
Ketika realitas negeri kita begitu buruk dengan kebobrokan moral di hampir semua lini, salah satu harapan kita adalah institusi pendidikan yang akan menjadi bagian solusi untuk negeri kita. Institusi pendidikan diharapkan dapat menyiapkan SDM untuk masa depan, kita berharap banyak kepada para dosen dan pihak kampus untuk menyiapkan mahasiswa, yang bukan hanya cerdas, tetapi jauh lebih penting: memiliki integritas pribadi dan bermoral kuat.
Persoalan yang muncul bagaimana merancang metode dan pendekatan yang tepat? Apakah sistem pendidikan sudah efektif dalam mengembangkan mahasiswa?
Tidak hanya persoalan akademis tetapi juga pengembangan karakter mahasiswa menjadi Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul? Apakah yang dilakukan selama ini oleh pemerintah, institusi pendidikan bahkan pola asuh dan pendidikan orang tua sudah mendukung untuk perkembangan kepribadian mahasiswa?

B.     RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang masalah yang diuraikan dapat dirumuskan masalah utama dalam penelitian ini adalah:
1.      Apakah ada pengaruh senam kecerdasan terhadap leadership mahasiswa?
2.      Bagaimana senam kecerdasan dapat mempengaruhi mahasiswa dalam mengambil keputusan?

C.     TUJUAN PENELITIAN
1.      Tujuan Umum
Untuk mengetahui efektivitas senam kecerdasan (SK) terhadap mahasiswa dalam mengambil tindakan kepemimpinan (leadership).
2.      Tujuan Khusus
a.       Untuk mengetahui metode senam kecerdasan di Lembaga Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia RTD (LP2SDM RTD).
b.      Untuk mengetahui pengaruh senam kecerdasan terhadap leadership mahasiswa di Lembaga Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia RTD (LP2SDM RTD).

D.    MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak, khususnya bagi peneliti dan khalayak intelektual. Disamping itu, penelitian ini dimaksudkan dapat diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Secara Teoritik
Manfaat yang ingin dicapai secara teoritis adalah dapat memberikan gambaran atau bahkan sebuah teori baru mengenai senam kecerdasan, metode pengoptimalan senam kecerdasan yang dapat membaca fenomena lingkungan dari setiap interaksi kesadaran yang terjadi tidak berkaitan dari pengalaman pengambilan keputusan kepemimpinan yaitu leadership.
Jadi, hasil dari penelitian ini nantinya diharapkan dapat digunakan sebagai peneliti-peneliti lain yang ingin meneliti hal serupa.
2.      Secara Praktis
a.      Bagi Masyarakat
Manfaat yang ingin dicapai secara praktis bagi masyarakat adalah untuk memberi gambaran individu yang mengetahui senam kecerdasan secara umum dan semuanya adalah proses pengembangan diri sendiri ketika manusia lahir keadaanya sangat lemah karena banyak kemampuannya masih tersimpan dalam bentuk potensi yang memerlukan pengembangan untuk menjadi aktual.
b.      Bagi Individu
Manfaat yang ingin dicapai secara praktis bagi individu adalah untuk memberikan gambaran bahwa setiap individu dapat merasakan efektivitas senam kecerdasan dengan metode-metode tertentu karena manusia adalah makhluk sempurna ciptaan Allah SWT. Yang memiliki potensi yang sangat luar biasa.
c.       Bagi Peneliti
Manfaat yang ingin dicapai secara praktis bagi peneliti adalah dapat memberikan pengalaman meneliti. Hasil penelitian pun dapat memberikan kepuasan secara batin karena dapat memberikan manfaat kepada orang lain, terutama manfaat bagi keilmuan Tasawuf dan Psikoterapi khususnya.
Manfaat lain yang juga ingin dirasakan peneliti adalah dapat mengikuti proses latihan yang dapat mengefektivitaskan senam kecerdasan terhadap leadership peneliti sendiri.

E.     TINJAUAN PUSTAKA
Untuk menyatakan keaslian penelitian ini, maka perlu adanya tinjauan pustaka dari penelitian yang terdahulu yang relevan dengan penelitian yang peneliti kaji. Adapun penelitian tersebut diantaranya:
Pertama, penelitian yang dilakukan Shonnief Hidayat (2013) yang berjudul “Materialisasi Aura Dalam Afirmasi Daya Tarik Cinta (Studi kasus di Lembaga Seni Pernapasan Radiasi Tenaga Dalam Unit Psikosufistik Walisongo Semarang)”. Dalam penelitian yang dihasilkan terdapat aura yang berdiri sebagai potensi daya batin seseorang, pada hakikatnya memancarkan sinar atau cahaya yang menyelubungi tubuh. Dan pembangkit auta disini adalah cakra dalam pengertian spiritual adalah tempat atau jalur keluar masuknya energi prana.[1]    
Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Hilmar Riyanto (2015) yang berjudul “Transformasi Identitas Diri Pada Individu Dengan Kemampuan Ekstra Sensory Perception Di Jakarta”. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka diperoleh bahwa transformasi identitas diri pada individu yang mengalami kebangkitan Ekstra Sensory Perception (ESP) mengalami perubahan pada komponen konsep diri dan terdapat 3 peran komunikasi didalamnya (intrapersonal, interpersonal, transcendental).[2]
Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Nisyfa Aditya Rahma (2012) yang berjudul “Kesejahteraan Psikologis (Psychological Wel-Being) Pada Individu Dewasa Awal Yang Memiliki Ekstra Sensory Perception (ESP).” berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh individu yang memiliki Ekstra Sensory Perception (ESP) dapat memenuhi 6 konsep psikologis, yaitu dimensi penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pengembangan pribadi.[3]
Keempat, penelitian yang dilakukan oleh Roinal Rois Al Kalim (2016) yang berjudul “Optimalisasi Energi Prana Dalam Meningkatkan Ekstra Sensory Perception.”berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka diperoleh pengoptimalan energy prana Ekstra Sensory Perception (ESP) dengan melatih kepekaan sebagai pemula melatih kepekaan tangan dan kepekaan badan. Kepekaan tangan memiliki psikolobus minor yang berguna untuk mengalirkan energi dari tubuh pada suatu objek secara intensif lebih dari itu psikolobus minor tangan memliki kepekaan yang tinggi dapat dipergunakan untuk “meraba” prana. Kemudian kepekaan badan dengan mengakses psikolobus solar plexus. Psikolobus solar plexus ini secara fungsi psikologis merupakan memori, begitu pula secara mekanisnya. Kepekaan bioenergi menunjukan tingkat respon spontan dari kerja pikiran terhadap sesuatu. Konsep optimalisasi energi adalah mengolah pernapasan perut, pemusatan pikiran, konsentrasi melatih, serta penghayatan. Dengan proses penghayatan bisa saja seseorang mengalami suatu proses meditasi tanpa mengetahui apa sebetulnya terjadi.[4]
Kelima, penelitian yang dilakukan oleh Wahyu Rishandi (2014) yang berjudul “Pengaruh Kepemimpinan Terhadap Disiplin Kerja Karyawan Di PT. SAC Nusantara Medan.” Berdasarkan hasil penelitian ini maka diperoleh dari hasil penelitian penulis di PT. SAC Nusantara Medan dapat ditarik kesimpulan bahwa Karyawan di PT. SAC Nusantara Medan dalam meningkatkan disiplin kerja pegawai dipengaruhi penerapan kepemimpinan yang sesuai dan yang diinginkan pegawai.[5]
Keenam, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dwi Wahyu Wijayanti (2014) yang berjudul. ”Pengaruh kepemimpinan dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Daya Anugerah Semesta Semarang.” Berdasarkan hasil penelitian ini maka diperoleh Kepemimpinan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan PT. Daya Anugerah Semesta Semarang. Sehingga disimpulkan bahwa semakin baik kepemimpinan yang tercipta semakin meningkat pula kinerja karyawan, dan demikian pula sebaliknya semakin buruk kepemimpinan maka kinerja karyawan juga semakin buruk. Motivasi berpengaruh positif tidak signifikan terhadap kinerja karyawan PT. Daya Anugerah Semesta Semarang. Sehingga disimpulkan bahwa semakin baik motivasi yang tercipta semakin meningkat pula kinerja karyawan, dan demikian pula sebaliknya semakin buruk motivasi maka kinerja karyawan juga semakin buruk.[6]
Ketujuh, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hendriawan (2011) yang berjudul. “Pengaruh Gaya Kepemimpinan Dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Dwimitra Multiguna Sejahtera Di Kabupaten Konawe Utara Provinsi Sulawesi Tenggara.” Berdasarkan hasil penelitian ini maka diperoleh Berdasarkan hasil perhitungan analisis regresi linear berganda dengan pengujian secara simultan diketahui bahwa variabel gaya kepemimpinan (X1) dan budaya organisasi (X2) diperoleh nilai F-hitung 64,967 dan nilai signifikansi 0,000 yang berarti variabel gaya kepemimpinan dan budaya organisasi berpengaruh secara simultan terhadap kinerja karyawan pada PT. Dwimitra Multiguna Sejahtera di Kabupaten Konawe Utara Provinsi Sulawesi Tenggara. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Suharyanto (2011) di Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, Teguh Rhiman Handoko (2012) di Pondok Serrata, Maulvinizar (2011) pada PT. Pos Indonesia (persero) cabang Kudus dan Rusdan Arif (2010) pada PT. Bank mega cabang Semarang dimana kepemimpinan dan budaya organisasi berpengaruh secara simultan terhadap kinerja karyawan.[7]
Kedelapan, berdasarkan penelitian yang dilakukan Marwan Petra Surbakti (2011) yang berjudul Analisi Pengaruh Kepemimpinan Transformasional & Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan (Studi pada PT. Kereta api Indonesia Daop IV Semarang).” Karyawan sangat membutuhkan motivasi dari pimpinan unuk mewujudkan cita-cita di masa mendatang baik melalui pelatihan, pada saat bekerja, sehingga terbentuk suatu sinergi yang dapat meningkatkan produktivitas. Beberapa peneliti telah menguji hubungan antara motivasi dengan kinerja pegawai, antara lain Cahyono dan Suharto (2005); Rachmawati, Warella, dan Hidayat (2006); Masrukhin dan Waridin (2006); Analisa (2011), bahwa motivasi kerja berpengaruh positif terhadap kinerja pegawai.[8]
Kesembilan, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Randi Putra  (2015) yang berjudul “Hubungan Antara Gaya Kepemimpinn dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Lembaga Pengkajian Teknologi dan Informasi Pelataran Mataram Yogyakarta”. Berdasarkan hasil penelitian ini maka dapat diperoleh hubungan positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan dengan kinerja LPTI Pelataran Yogyakarta, yang ditunjukan dengan nilai r hitung lebih besar dari r tabel (0, 0,545>0,279) dan nilai signifikansi kurang dari 0,05 (0,000<0,05), 2) terdapat hubungan positif dan signifikan antara motivasi kerja dengan kinerja pegawai LPTI Pelataran Mataram Yogyakarta, yang ditunjukkan dengan nilai r hitung lebih besar dari r tabel (0,640 >0,279) dan nilai signifikansi kurang dari 0,05 (0,000<0,05). 3) terdapat hubungan positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan dan motivasi kerja dengan kinerja pegawai LPTI Pelataran Mataram Yogyakarta, yang ditunjukkan dengan nilai R hitung sebesar 0,730 lebih besar dari R tabel (0,730 >0,279) dan nilai signifikansi kurang dari 0,050 (0,000<0,05).[9] 
Kesepuluh, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Adman (2001) yang berjudul “Kepemimpinan dan Produktivitas Kerja”. Berdasarkan hasil penelitian ini maka diperoleh hasil penelitian menunjukkan angka hubungan sebesar 0,80, artinya terdapat derajat keeratan hubungan yang positif antara perilaku kepemimpinan dengan produktivitas kerja karyawan. Hal ini menunjukan bahwa perilaku kepemimpinan mempunyai pengaruh yang positif terhadap peningkatan produktivitas kerja karyawan di pondok pesantren Daarut Tauhiid Bandung. Hal itu ditunjukkan dengan adanya; Pertama, beberapa indikator perilaku kepemimpinan yang terbentuk seperti keteladanan, kemampuan memotivasi, kemampuan dalam pengambilan keputusan, disiplin.  merupakan bagian terpenting dalam menunjang produktivitas kerja karyawan.  Dan hal tersebut merupakan kunci utama yang menjadi landasan dalam membentuk dan membangun Sumber Daya Manusia yang berkualitas. Kedua, Perilaku, sifat dan gaya Kepemimpinan tersebut menunjukan peran yang penting dalam membentuk kepribadian dan kesadaran bagi karyawan di Pondok Pesantren DT tersebut. Ketiga, Nilai luhur yang menjadi acuan  para karyawan dan santri di Pondok Pesantren DT diyakini dan melekat pada setiap individu karyawan.[10]

BAB II
LANDASAN TEORI
A.    KAJIAN TEORI
1.      Senam Kecerdasan
Persoalan penting saat ini dalam dunia pendidikan adalah krisis SDM. Krisis SDM tersebut berkaitan dengan ketidakmampuan kita menggunakan bakat dan talenta sebagai manusia. Oleh karena itu, yang dibutuhkan bukan evolusi, tetapi revolusi dalam bidang pendidikan. Sistem pendidikan yang ada sekarang harus ditransformasikan menjadi sesuatu yang berbeda.
Menurut Ken Robinson, masalah terbesar dari reformasi atau transformasi pendidikan adalah tirani dari penalaran umum, sebuah nilai dan praktek yang sudah diterima apa adanya sebagai kebenaran dan orang menganggap tidak mungkin dilakukan dengan cara lain karena biasanya memang begitu. Dogma-dogma (pendidikan) pada dasarnya adalah buah pemikiran sebagai respon masalah pada sebuah zaman.
Banyak dari ide-ide kita telah dibentuk, bukan untuk memenuhi keadaan abad ini, tapi untuk mengatasi keadaan abad sebelumnya”. kita harus memerdekakan diri kita dari beberapa ide-ide tersebut”.
Salah satu dogma tentang pendidikan yang sudah tidak tepat zaman adalah ide mengenai linearitas. Jika kita mulai dari sebuah titik dan kita melakukan semuanya dengan benar, maka kita pasti akan sampai di tujuan dan selamat seumur hidup kita. Padahal, kenyataannya hidup tidaklah linear. Kehidupan itu layaknya organik.
”Kita menciptakan hidup kita secara simbiotik seiring dengan eksplorasi bakat-bakat kita dalam kaitannya dengan situasi yang tercipta untuk kita. Model yang menarik untuk menjelaskkan hal-hal tersebut di atas, ada temuan yang sangat menarik dalam seni pernafasan dan olah gerak tubuh, salah satunya disebut dengan “Senam Kecerdasan” yang melalui gerakan-gerakan tubuh tertentu dan pengolahan pernapasan yang tepat dapat mengolah semua sumber energi dalam tubuh dan luar tubuh secara simultan. Sistem yang terintegerasi dan energi yang lebih berkualitas dapat diolah melalui sebuah proses dekonstruksi dan rekonstruksi sumber daya energi dan aliran energi sedemikian logis, sistimatis dan konsisten.
Dalam rancang bangun manajemen kualitas energi yang kokoh, tidak hanya membangun fisik luar dan dalam yang sehat, juga membangun kepribadian yang matang (mature personality) dengan tetap memperhatikan tuntutan dan situasi sehingga tetap mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda-beda dan baru (well adjusted) dan semakin mengembangkan kesadaran spiritual terhadap pencipta (Allah SWT) dan semua ciptaannya.
Dalam senam kecerdasan terkuak bagaimana semua fungsi tubuh biologis, kimiawi tubuh dan fisika tubuh yang dapat mengoptimalkan fungsi psikologis yaitu kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional, dan yang terpenting kesadaran spiritual. Medan energi yang disebut dengan ”Psikolobus‟ merupakan titik-titik medan energi (biofield) dalam tubuh fisik yang dapat menstimulasi semua bagian dalam dan luar tubuh untuk mengembangkan potensi dan kompetensi seseorang tidak secara linear, tetapi sangat dinamis dan singular. Sebuah kesadaran baru menjadi aktif ketika kesadaran menyatakan masih ada suatu nalar yang bisa dijelajahi, suatu realita baru yang lebih holistik dan membentang.
Cara Kerja Senam Kecerdasan:
Mekanisme dan fungsi psikolobus yang ajeg dan konsisten dengan fungsi dan peran kelenjar tubuh yang bekerja secara sistematis, proses kimiawi tubuh dan polarisasi energi dalam tubuh membuat dinamika psikis menjadi terjelaskan secara logis dan empirikal. Cara kerja dan dinamika intrapsikis seperti kognitif, emosi dan afeksi serta konasi menjadi lebih mudah dijelaskan dan mudah dipahami.[11]

2.      Perilaku Kepemimpinan
Teori yang menggunakan perilaku memandang bahwa kepemimpinan dapat dipelajari dari pola tingkah laku, dan bukan dari sifat-sifat (traits) pemimpin. Alasanya sifat-sifat seorang relatif sulit untuk diidentifikasikan. Halphin (1959) menyatakan tentang keharusan dibedakannya antara kepemimpinan dengan tingkah laku pemimpin. Dalam pengertian yang dipertentangkan antara kepemimpinan dan tingkah laku pemimpin (leadership dan leader behavior), ialah bahwa tingkah laku pemimpin lebih ditekankan pada tingkah laku yang dapat diobservasi (observed behavior) daripada kapasitas nyata yang dapat diangkat dari tingkah laku tersebut. Dalam hal ini para pendukung teori perilaku mengungkapkan bahwa cara seseorang bertindak akan menentukan keefektifan kepemimpinan orang bersangkutan. 
Fidler (1973) secara jelas membedakan antara perilaku kepemimpinan dengan gaya kepemimpinan. Dikemukakan bahwa perilaku kepemimpinan merupakan tindakan-tindakan spesifik seorang pemimpin dalam mengarahkan dan mengkoordinasikan kerja anggota kelompok.  Sebagai contoh, pemimpin membimbing atau memberikan saran-saran kepada yang dipimpinnya, Sedangkan gaya kepemimpinan adalah hal-hal yang mendasari tindakan pemimpin (need structure) yang mendorong perilakunya dalam berbagai situasi kepemimpinan. Perilaku kepemimpinan, gaya kepemimpinan, dan sifat kepemimpinan dari masing-masing pemimpin memiliki ciri khas.  Perilaku kepemimpinan yang cocok dalam satu situasi belum tentu sesuai dengan situasi yang lain, akan tetapi, perilaku kepemimpinan keefektifannya tergantung pada banyaknya faktof.
Nanang Fatah, (1996), mengemukakan bahwa perilaku pemimpin dipengaruhi oleh empat faktor-faktor. Pertama; faktor keluarga yang langsung maupun tidak langsung telah melekat pada dirinya. Kedua: latar belakang pendidikannya yang berpengaruh dalam pola pikir, pola  sikap tingkah lakunya. Ketiga: pengalaman yang mempengaruhi kebijaksanaan dan tindakanya. Keempat: lingkungan masyarakat sekitar akan menentukan arah yang  harus diperankannya. Bagaimana pemimpin berperilaku dipengaruhi oleh latar belakang pengetahuan, nilai-nilai dan pengalaman mereka. Disamping itu pemimpin harus mempertimbangkan kekuatan situasi seperti iklim organisai, sifat tugas, tekanan waktu, sikap anggota, faktor lingkungan organisasi. Salah satu wujud dari perilaku kepemimpinan adalah sifat keteladanan. Keteladanan adalah sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Apabila seorang pemimpin sudah mampu menunjukan keteladananya maka siapapun yang menjadi pengikutnya akan patuh dan tidak ada keraguan lagi untuk selalu mentaatinya. Adapun wujud dari sifat keteladanan ini antara lain ditunjukan dengan akhlak yang baik. Akhlak yang baik dari seorang pemimpin seperti kita ketahui yang ditunjukkan oleh baginda Rasulullah Muhammad SAW, seperti tertera dalam Al Qur’an (yang diterjemahkan): “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak berdzikir menyebut (asma) Allah.” (Al Ahzab, 21)  Selanjutnya adalah sifat disiplin. Disiplin yang sudah teruji tidak hanya sekedar menjadi sifat saja akan tetapi sudah merupakan perilaku disiplin dan hal ini ditunjukan langsung oleh pemimpin. Selain itu, indikator lain dari keteladanan seorang pemimpin antara lain, rasa tanggung jawab, prestasi kerja yang dimiliki oleh seorang pemimpin, adanya tauladan atau contoh langsung yang ditunjukan oleh diri pemimpin. Wujud selanjutnya dari perilaku kepemimpinan adalah kemampuan untuk memotivasi seseorang. Memeotivasi seseorang secara langsung atau tidak langsung, membangkitkan potensi yang dimiliki orang tersebut, sehingga ia berusaha mencapai tujuan pribadi dan organisasi secara efektif dan efisien. Kemampuan untuk mengambil keputusan yang berkualitas juga merupakan wujud dari perilaku kepmimpinan.
Helga Drumond (1995) menyatakan pengambilan keputusan adalah segala hal mengenai penciptaan kejadian-kejadian dan pembentukan masa depan. Sementara proses pengambilan keputusan adalah menyangkut peristiwa-peristiwa yang menjurus pada saat pemilihan dan sesudahnya, sementara sebuah keputusan berarti memutus, yaitu menentukan sebuah pilihan atau arah tindakan tertentu. Kemampuan berkomunikasi merupakan wujud berikutnya dari perilaku kepemimpinan. Kemampuan ini akan terlihat pada indikator-indikator sebagai berikut: kemampuan retorika, hal ini merupakan kemampuan yang melekat pada diri seorang pemimpin. Pada hakekatnya pemimpin sesuai dengan perannya dia akan menyampaikan ide-idenya kepada para bawahanya, untuk menyampaikan hal tersebut harus didukung oleh kemampuan untuk menyampaikan secara efektif, menyangkut kemampuan menyampaikan secara efektif inilah yang kita kenal dengan retorika. Selanjutnya ialah seorang pemimpin dalam menyampaikan setiap ide-idenya harus mudah dipahami oleh bawahannya, kemampuan ini harus dimiliki oleh seorang pemimpin dalam rangka menunjang efektivitas kepemimpinan pula. Tekait dengan kemampuan berkomunikasi ini, pemimpin juga harus memahami obyek dalam menjalankan tugas kepemimpinanya. Yang dimaksud adalah seorang pemimpin harus memahami betul setiap tindakan yang dilakukannya, baik yang menyangkut dengan dirinya juga dengan orang lain atau para bawahanya. Dalam hubungannya dengan perilaku kepemimpinan, visi dan misi organisasi dipandang sebagai inovasi dalam proses menjalankan tugas kepemimpinan. Visi dan misi ini dominan sekali peranannya dalam proses pengambilan keputusan bagi pemimpin, termasuk juga dalam menentukan kebijakan dan penentuan strategi organisasi. Visi merupakan salah satu atribut kunci kepemimpinan, yang sekaligus menjadi “sole guideline” bagi setiap anggota organisasi dalam beraktivitas.[12]

B.     METODOLOGI RISET
1.      Jenis Dan Pendekatan Penelitian
a.      Jenis penelitian
penelitian ini termasuk jenis penelitian lapangan (field research), objek penelitiannya adalah berupa objek dilapangan yang sekiranya dapat memberikan informasi tentang kajian penelitian. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yaitu penelitian yang bersifat dan memiliki karakteristik alami (natural setting) sebagai sumber data langsung, deskriptif, proses lebih dipentingkan daripada hasil.[13]
b.      Pendekatan
Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus. Dengan ini peneliti mempelajari dan menggambarkan aktifitas, kejadian ataupun individu, berdasarkan pengumpulan data yang intensif.[14] Kasus yang dipelajari atau diteliti adalah aktifitas atau kegiatan latihan yang ada di Lembaga Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia RTD (LP2SDM RTD).
2.      Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Lembaga Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia RTD (LP2SDM RTD) Unit Psikosufistik Walisongo Semarang, tepatnya adalah sebuah lembaga olahraga, olah rasa serta olah jiwa yang berada dilingkungan Himpunan Mahasiswa Jurusan Tasawuf Psikoterapi (TP), kampus 2 Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang Jalan Prof. DR. Hamka Ngaliyan km.2 Semarang 50181 Jawa Tengah.
3.      Sumber Data
Adapun sebagai sumber data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.      Sumber Data Primer
Dalam penelitian ini, sumber data adalah aktifitas atau kegiatan beserta modul pelatihan di Lembaga Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia RTD (LP2SDM RTD) Unit Psikosufistik Walisongo Semarang.
b.      Sumber Data Sekunder
Adapun sebagai data sekunder peneliti mengambil dari buku-buku yang ada relevansinya dengan penelitian ini.[15] Serta mengumpulkan dokumentasi yang terkait dengan penelitian ini. Seperti hasil observasi dan wawancara peneliti, dokumentasi.
4.      Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan observasi partisipan, wawancara, dokumrntasi.
a.      Observasi Partisipan
Obversavi partisipan ini, peneliti ini hadir secara fisik dan memonitor secara persoalan yang terjadi. Dalam observasi penelitian ikut terlibat langsung dalam penelitian yang diamati, sambal mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya secara fisik dan memonitor secara persoalan yang terjadi. Dalam observasi penelitian ikut terlibat langsung dalam penelitian yang diamati, sambal mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang dibutuhkan.[16]
Dalam penelitian kualitatif dikenal adanya tiga tahap observasi yaitu: observasi deskriptif, observasi terfokus, observasi terseleksi, untuk keterangannya sebagai berikut:[17]
1.      Observasi deskriptiv, observasi ini biasanya dilakukan pada tahap eksplorasi umum. Dalam observasi deskriptif ini, peneliti melakukan pra-riset atau beradaptasi dalam kegiatan Lembaga Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia RTD (LP2SDM RTD) sejak tahun 2013 sampai sekarang.
2.      Observasi terfokus, observasi jenis ini biasanya dilakukan sebagai kelanjutan observasi deskriptif. Pada tahap ini observasi sudah lebih terfokus terhadap efektifitas senam kecerdasan.
3.      Observasi terseleksi, observasi ini peneliti mengeksplorasi data tentang efektifitas senam kecerdasan oleh peserta latihan di Lembaga Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia RTD (LP2SDM RTD).
b.      Wawancara
Wawancara dalam pendekatan kualitatif bersifat mendalam. Wawancara mendalam adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan informasi secara mendalam dari hasil latihan senam kecerdasan kepada peserta.[18]
c.       Studi Dokumentasi
Studi dokumentasi ini, peneliti mengumpulkan dokumen maupun foto yang ada di Lembaga Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia RTD (LP2SDM RTD). Dokumen ini bisa berbentuk hasil observasi dan wawancara peneliti, gambar atau foto.
5.      Teknik Analisis Data
Untuk menganalisis data yang ada, Peneliti menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Yaitu menganalisa data dengan menggambarkan data apa adanya kemudian menganalisisnya. Penelitian kualitatif ini digunakan untuk mendapat data yang mendalam yakni suatu data yang mengandung makna. Makna disini maksudnya adalah data yang sebenarnya yaitu data yang nampak dalam penelitian. Sehingga bisa dikatakan bahwa kualitatif tidak menekankan pada generalisasi, akan tetapi menekankan dari data tersebut.[19]
Proses analisis ini dimulai dengan menvalidasi data atau memastikan data yang ditemukan serta interpretasinya telah akurat, mengorganisasi data dan informasi, menyajikan temuan dengan paparan temuan dalam bentuk kategorisasi dan pengelompokan, dan selanjutnya peneliti melakukan interpretasi dalam memahami kenyataan yang ada untuk menarik kesimpulan.
6.      Tahap Penelitian
Tahap-tahap penelitian dalam penelitian ini ada tiga tahapan dan ditambah dengan tahap terakhir dari penelitian yaitu tahap hasil riset penelitian. Tahap-tahap penelitian tersebut adalah:
a.       Tahap pra lapangan, yang meliputi: menyusun rancangan penelitian; memilih lapangan penelitian; mengurus perizinan; melihat dan menilai keadaan lapangan; memilih dan memanfaatkan informan; menyiapkan perlengkapan penelitian; dan yang menyangkut persoalan etika penelitian.
b.      Tahap pekerja lapangan, yang meliputi: memahami latar penelitian dan persiapan diri; memasuki lapangan dan berperan serta sambal mengumpulkan data
c.       Tahap analisis data, yang meliputi: analisis lama dan setelah pengumpulan data.
d.      Tahap hasil riset penelitian, pada tahap ini hasil riset penelitian tidak terlepas dari keseluruhan tahapan kegiata-kegiatan dan unsur-unsur penelitian.

C.    HASIL RISET
Menurut dari narasumber yang diteliti, maka ditemukan hasil sebagai berikut:
1.      Sejak kapan anda mengikuti pelatihan di LP2SDM RTD?
Jawab: sejak awal mengenal LP2SDM RTD di bangku perkuliahan.
2.      Kenapa anda mengikuti pelatihan di LP2SDM RTD?
Jawab: karena didalam lembaga ini kajian keilmuannya mencakup jurusan saya di tasawuf dan psikoterapi.
3.      Siapa yang mengajak anda mengikuti pelatihan di LP2SDM RTD?
Jawab: sendiri karena saya berminat semenjak mengenal LP2SDM RTD.
4.      Apa saja manfaat yang anda peroleh setelah mengikuti latihan di LP2SDM RTD?
Jawab: selain kesehatan manfaat yang saya rasakan subtansi yang menggabungkan metode olah tubuh,olah nafas, dan olah jiwa yang membuat saya dapat mengambil keputusan atau tindakan yang membuat saya dapat bertanggung jawab atas kegiatan yang saya lakukan sehari-hari.
5.      Adakah perubahan dalam diri anda setelah mengikuti pelatihan di LP2SDM RTD? Jelaskan!
Jawab: ada, saya lebih mudah menggontrol diri dalam menghadapi masalah yang ada di kehidupan saya karena saya merasa lebih tenang menghadaapi kehidupan sudah dilatih dalam lembaga ini meliputi olah jiwa.
6.      Bagaimana system pelatihan di LP2SDM RTD?
Jawab: lebokno proposal senam kecerdasan goleti dewe wkwkwk
7.      Bagaimana pengaruh mengikuti pelatihan dalam keseharian anda di LP2SDM RTD?
Jawab: Didalam latihan menggolah polaritas energi sehingga membentuk lapisan biofiled yang membentuk medan-medan energi yang dapat membantu keseharian yng mengharmoniskan diri dan lingkungan.
8.      Bagaimana rasanya melakukan latihan senam kecerdasan?
Jawab: Untuk awal mulanya saya merasa berat karena pola nafas yang belum terbiasa dalam menahan nafas keika bersamaan melakukan gerakan jadi presisi gerakan juga harus tepat dan tidak lepas akan berzikir di setiap gerakan, sehingga membuat saya harus terbiasa akan kesulitan tersebut.

BAB III
KESIMPULAN
A.    KESIMPULAN DAN SARAN
a.      Kesimpulan
Gambaran efektivitas senam kecerdasan terhadap leadership di Lembaga Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia RTD (LP2SDM RTD). Unit Psikosufistik Semarang. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dipaparkan pada laporan ini. Maka dapat disimpulkan adanya hubungan efektifitas senam kecerdasan dengan leadership dengan rincian sebagai berikut:
1.      Manfaat dari senam kecrdasan ini selain kesehatan manfaat yang saya rasakan subtansi yang menggabungkan metode olah tubuh,olah nafas, dan olah jiwa yang membuat peserta dapat mengambil keputusan atau tindakan yang membuat peserta dapat bertanggung jawab atas kegiatan yang peserta lakukan sehari-hari.
2.      Perubahan dalam jiwa dan raga dapat lebih mudah menggontrol diri dalam menghadapi masalah yang ada di kehidupan saya karena saya merasa lebih tenang menghadapi kehidupan sudah dilatih dalam lembaga ini meliputi olah jiwa.
3.      Didalam latihan menggolah polaritas energi sehingga membentuk lapisan biofiled yang membentuk medan-medan energi yang dapat membantu keseharian yng mengharmoniskan diri dan lingkungan.

b.      Saran
Berdasarkan uraian diatas tentang efektifitas senam kecerdasan terhadap leadership mahasiswa, maka ada, beberapa saran-saran yang dapat peneliti sarankan, peneliti, peneliti menyarankan seluruh umat manusia khususnya kepada pembaca skripsi:
1.      Untuk masyarakat umum efektifitas senan kecerdasan hal yang khusus, semuanya adalah proses pengembangan pada diri sendiri. Ketika manusia lahir, keadaan sangat lemah, karena banyak kemampuannya masih tersimpan dalam bentuk potensi yang mememerlukan pengembangan untuk menjadi actual.
2.      Untuk para praktisi peserta Lembaga Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia RTD (LP2SDM RTD) dan juga calon-calon peserta pelatihan di lembaga ini. Hendaklah mengesampingkan niat yang hanya memiliki kekuatan atau daya metafisika ssemata, namun landaskan pada tujuan memahami bentuk diri sendiri, alam sekitar, dan Tuhan Yang Maha Pencipta. Dan kesungguhan melatih body, mind and soul tanpa henti secara konsisten. Karena dalam hidup tidak ada tingkat tertinggi, yang tertinggi hanya Tuhan semata. Kita sebagai manusia hanya berusaha dan terus berusaha.

DAFTAR PUSTAKA
·         Adman, S.Pdi, Kepemimpinan dan Produktifitas Kerja, Journal, Bandung: Pondok Darut Tauhid: 2001.
·         Dwi Wahyu Wijayanti, Pengaruh kepemimpinan dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Daya Anugerah Semesta Semarang, Skripsi, Semarang: UNDIP, 2014.
·         Hendriawan, Pengaruh Gaya Kepemimpinan Dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Dwimitra Multiguna Sejahtera Di Kabupaten Konawe Utara Provinsi Sulawesi Tenggara, Skripsi, Surabaya: Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, 2011.
·         Hilmar Riyanto, Transformasi Identitas Diri Pada Individu Dengan Kemampuan Ekstra Sensory Perception Di Jakarta, Skripsi, Jakarta: Fak. Ilmu Komunikasi UMB, 2015.
·         Ir. Raden Aas Rokasa,  Senam Kecerdasan Dalam Multidisiplin Ilmu, Proposal, Bandung: LSP RTD 2015.
·         Lexy Moelong, Metodelogi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT.Remaja Rosda Karya, 2000.
·         Marwan Petra Surbakti, Analisi Pengaruh Kepemimpinan Transformasional & Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan (Studi pada PT. Kereta api Indonesia Daop IV Semarang), Skripsi, Semarang: UNISULA, 2011.
·         Nisyfa Aditya Rahma, Kesejahteraan Psikologis (Psychological Wel-Being) Pada Individu Dewasa Awal Yang Memiliki Ekstra Sensory Perception (ESP), Skripsi, Malang: Fak. Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim, 2012.
·         Randi Putra, Hubungan Antara Gaya Kepemimpinn dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Lembaga Pengkajian Teknologi dan Informasi Pelataran Mataram Yogyakarta. Skripsi, Yogyakarta: Fak. Ekonomi UNY, 2015.
·         Rianto Adi, Metodologi Penelitian Social dan Hukum, edisi 1, Jakarta: Granit, 2004.
·         Roinal Rois Al Kalim, Optimalisasi Energi Prana Dalam Meningkatkan Ekstra Sensory Perception, Skripsi, Semarang: Fak. Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo, 2016.
·         Rully Indrawan dan Poppy Yaniawati, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan campuran untuk menejemen, pembangunan, dan pendidikan, Bandung: PT Refika Aditama, 2014.
·         Shonnief Hidayat,  Materialisasi Aura Dalam Afirmasi Daya Tarik Cinta (Studi kasus di Lembaga Seni Pernapasan Radiasi Tenaga Dalam Unit Psikosufistik Walisongo Semarang), Skripsi, Semarang:Fak. Ushuluddin IAIN Walisongo, 2013.
·         Sanipah Faisal, Penelitian Kualitatif Dasar-Dasar dan Aplikasi, Malang: Yayasan Asah Asih Asuh Malang, 1990.
·         Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, Bandung: Alfabeta, 2006. hlm. 9.
·         Wahyu Rishandi Pengaruh Kepemimpinan Terhadap Disiplin Kerja Karyawan Di PT. SAC Nusantara Medan. Skripsi, Medan: Universitas Sumatra Utara, 2014.

Lampiran 1
PEDOMAN WAWANCARA
UNTUK PESERTA LATIHAN DI LP2SDM RTD
Berikut ini adalah guide interview atau pedoman wawancara. Pedoman ini masih bisa berkembang menjadi pertanyaan-pertanyaan terperinci.
1.      Sejak kapan anda mengikuti pelatihan di LP2SDM RTD?
2.      Kenapa anda mengikuti pelatihan di LP2SDM RTD?
3.      Siapa yang mengajak anda mengikuti pelatihan di LP2SDM RTD?
4.      Apa saja manfaat yang anda peroleh setelah mengikuti latihan di LP2SDM RTD?
5.      Adakah perubahan dalam diri anda setelah mengikuti pelatihan di LP2SDM RTD? Jelaskan!
6.      Bagaimana system pelatihan di LP2SDM RTD?
7.      Bagaimana pengaruh mengikuti pelatihan dalam keseharian anda di LP2SDM RTD?
8.      Bagaimana rasanya melakukan latihan senam kecerdasan?

Lampiran 2
PEDOMAN WAWANCARA
UNTUK PELATIH DI LP2SDM RTD
1.      Bagaimana proses pelatihan LP2SDM RTD?
2.      Apa tujuan dan manfaat pelatihan LP2SDM RTD?
3.      Bagaimana perbedaan peserta yang serius dengan yang tidak?
4.      Apa itu senam kecerdasan?
5.      Apa efek yang diperoleh setelah melakukan senam kecerdasan?
6.      Apa yang anda ketahui tentang leadership?
7.      Bagaimana hubungan efektifitas senam kecerdasan dengan leadership?


Lampiran 3
PEDOMAN OBSERVASI
1.      Dimana lokasi penelitian LP2SDM RTD Unit Psikosufistik?
2.      Bagaimana tahapan latihan di LP2SDM RTD?
3.      Bagaimana aktifitas di LP2SDM RTD?
4.      Bagaimana metode atau cara mengetahui efektifitas senam kecerdasan?
5.      Bagaimana cara pelatih menyampaikan training?
6.      Bagaimana cara mengefektifitaskan senam kecerdasan terhadap leadership?





[1]Shonnief Hidayat,  Materialisasi Aura Dalam Afirmasi Daya Tarik Cinta (Studi kasus di Lembaga Seni Pernapasan Radiasi Tenaga Dalam Unit Psikosufistik Walisongo Semarang), Skripsi, Semarang:Fak. Ushuluddin IAIN Walisongo, 2013.
[2] Hilmar Riyanto, Transformasi Identitas Diri Pada Individu Dengan Kemampuan Ekstra Sensory Perception Di Jakarta, Skripsi, Jakarta: Fak. Ilmu Komunikasi UMB, 2015.
[3] Nisyfa Aditya Rahma, Kesejahteraan Psikologis (Psychological Wel-Being) Pada Individu Dewasa Awal Yang Memiliki Ekstra Sensory Perception (ESP), Skripsi, Malang: Fak. Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim, 2012.
[4] Roinal Rois Al Kalim, Optimalisasi Energi Prana Dalam Meningkatkan Ekstra Sensory Perception, Skripsi, Semarang: Fak. Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo, 2016.
[5] Wahyu Rishandi Pengaruh Kepemimpinan Terhadap Disiplin Kerja Karyawan Di PT. SAC Nusantara Medan. Skripsi, Medan: Universitas Sumatra Utara, 2014.
[6]Dwi Wahyu Wijayanti, Pengaruh kepemimpinan dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Daya Anugerah Semesta Semarang, Skripsi, Semarang: UNDIP, 2014.
[7] Hendriawan, Pengaruh Gaya Kepemimpinan Dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. Dwimitra Multiguna Sejahtera Di Kabupaten Konawe Utara Provinsi Sulawesi Tenggara, Skripsi, Surabaya: Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, 2011.
[8] Marwan Petra Surbakti, Analisi Pengaruh Kepemimpinan Transformasional & Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan (Studi pada PT. Kereta api Indonesia Daop IV Semarang), Skripsi, Semarang: UNISULA, 2011.
[9]Randi Putra, Hubungan Antara Gaya Kepemimpinn dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Lembaga Pengkajian Teknologi dan Informasi Pelataran Mataram Yogyakarta. Skripsi, Yogyakarta: Fak. Ekonomi UNY, 2015.
[10] Adman, Kepemimpinan dan Produktivitas Kerja, Skripsi, Bandung: Fak. Ushuluddin dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati, 2001.
[11] Ir. Raden Aas Rokasa,  Senam Kecerdasan Dalam Multidisiplin Ilmu, Proposal, Bandung: LSP RTD 2015.
[12] Adman, S.Pdi, Kepemimpinan dan Produktifitas Kerja, Journal, Bandung: Pondok Darut Tauhid: 2001.
[13] Lexy Moelong, Metodelogi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT.Remaja Rosda Karya, 2000, hlm. 102.
[14] Rully Indrawan dan Poppy Yaniawati, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan campuran untuk menejemen, pembangunan, dan pendidikan, Bandung: PT Refika Aditama, 2014, hlm.72.
[15] Rianto Adi, Metodologi Penelitian Social dan Hukum, edisi 1, Jakarta: Granit, 2004, hlm. 57.
[16] Rully Indrawan dan Poppy Yaniawati, op.cit., hlm. 135.
[17] Sanipah Faisal, Penelitian Kualitatif Dasar-Dasar dan Aplikasi, Malang: Yayasan Asah Asih Asuh Malang, 1990, hlm. 80.
[18] Rully Indrawan dan Poppy Yaniawati, op.cit., hlm 136.
[19] Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, Bandung: Alfabeta, 2006. hlm. 9.

No comments:

Post a Comment